Winston Bolt
Di dalam pelajaran menghakimi ini kita dapat memeriksa dalam firman Tuhan apakah seorang Kristen mempunyai hak untuk menghakimi atau menghukum saudara lain. Kita akan melihat ayat-ayat yang berbicara tentang hal-hal ini dan mencoba mengerti apa yang benar dari isi yang melingkari ayat-ayat sebab isi sebuah perikop firman Tuhan memberi artinya kepada kata-kata yang ada di dalamnya. Kita juga dapat memakai undang-undang (kaidah) menerangkan, menterjemahkan dan menafsirkan (hermeneutika untuk membaca dan mengerti Alkitab). Di dalam Alkitab ada kata-kata yang tidak setuju atau seperti berlawanan, tetapi menurut undang-undang menafsir firman Tuhan selalu setuju. Jadi di dalam pelajaran ini kita memeriksa kesulitan tentang menghakimi. Persoalan tentang menghakimi datang sewaktu Yesus berkata, “Jangan kamu menghakimi,” dan rasul Paulus menulis dalam 1 Korintus 5:12b, “Bukankah kamu hanya menghakimi mereka yang berada di dalam jemaat?” Persoalan timbul di waktu ada saudara-saudara salah memakai atau salah menafsirkan ayat-ayat ini. Kami akan membandingkan ayat-ayat lain dari Perjanjian Baru yang berbicara tentang menghakimi agar kita dapat dengan jelas mengerti kebenaran
tentang hal ini.
Pelajaran Tuhan Yesus Kristus
- Perintah untuk tidak menghakimi (Mt. 7:1-2).
- Perintah untuk tidak menghakimi tetapi mengampuni (Lk. 6:37,38).
- Contoh bahwa manusia tidak layak menghakimi saudara-saudara lain (Lk. 6:41,42).
- Yesus tidak datang untuk menghakmi dunia (Yoh. 3:17), tetapi yang menjadi hakimnya adalah Firman Allah (Yoh. 12:47,48).
Pelajaran Rasul Paulus dari Surat Roma dan 1 dan 2 Korintus
- Allah menghakimi (Rom. 2:1-16; Kis. 10:42).
- Siapakah kamu sehingga kamu menghakimisaudara yang lain? (Rom. 14:4,9,10). Dalam ayat 10, “Tetapi engkau, mengapakah engkau menghakimi saudaramu? Atau mengapakah engkau menghina saudaramu?”
- Nasehat Paulus kepada orang yang mau menghakimi dia (1 Kor. 4:1-6).
- Jangan bergaul dengan orang-orang cabul, kikir, penyembah berhala, pemfitnah, pemabuk, atau penipu (1 Kor. 5:9-13). Dalam ayat 13 dikatakan, “Usirlah orang-orang yang melakukan kejahatan dari tengah-tengah kamu.” Maksud untuk ini kita bisa melihat di dalam 1 Korintus 2:5-11, perbuatan ini dengan maksud mengembalikkan orang dari dosa.
- 1 Korintus 6:1-7 tentang perkara-perkara hukum jasmani dengan arti seperti keputusan. Hanya waktu kita naik ke sorga boleh kita menghakimi tetapi sekarang kita tidak layak untuk menghakimi saudara-saudara.
Pelajaran dari Surat Yakobus
- Belas kasihan atas penghakiman (Yak. 2:7-13).
- “Janganlah kamu saling memfitnah! Barangsiapa memfitnah saudaranya atau menghakiminya ia mencelahukum dan menghakiminya” (Yak. 4:11-12).
- Yakobus 5:1-6. Orang ini sudah menghakimi diri sendiri oleh perbuatannya. Ini sama dalam Yohanes 12:48 waktu orang menolak firman Tuhan, dia menghakimi diri sendiri oleh perbuatannya.
- Yakobus 5:9, “Janganlah kamu bersungut dan saling mempersalahkan supaya kamu jangan dihukum.”
- Siapa yang berhak dan layak untuk menghakimi manusia? Ialah Allah dan Tuhan Yesus Kristus (2 Tim. 4:1; Ibr. 10:30; 12:1-7).
Di Indonesia kata menghakimi sedikit beda dan berarti menuduh. Waktu kita menuduh saudara lain, maka itu akan membawa dampak membinasakan dan menyakiti mereka. Maksud kita sebagai orang Kristen bukan menghakimi/menuduh tetapi sebaliknya kita harus mengasihi dan menolong dengan murah hati. Kita bisa belajar dari contoh seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah. Ahli-ahli Taurat dan orang Farisi membawanya kepada Yesus dan Yesus tidak menghukumnya, tetapitindakan Yesus ialah menganjurkan agar perempuan itu bertobat. “KataNya, pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang” (Yoh. 8:11).
Cobalah perhatikan dan pikirkan lagi tentang menghakimi:
- Setiap pribadi hendaklah memperhatikan: Mt. 7:1; Lk. 6:37; Rom. 2:1; 1 Kor. 11:29.
- Siapakah yang berhak untuk menghakimi? Rom. 2:16; Ibr. 4:12 (Firman Allah).
- Jangan saling menghakimi: Rom 14:4,10,13; Kol. 2:16; Yak. 4:11,12.
- Jemaat: 1 Kor. 5:9-12 — sesuai dengan Kristus.
- Yoh. 3:17 (Jemaat, Tubuh Kristus).
- Sikap kita: Yoh. 5:30.
- Metode: Yohanes 7:24, artinya kebenaran menurut Allah bukan pendapat atau adat manusia.
Marilah kita selalu mengingat perumpamaan Yesus dalam Matius 7:3,4, “Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu?” Artinya adalah jikalau saudara yang mau menghakimi saudara lain, sebenarnya dia itu mempunyai persoalan besar dengan dirinya sendiri, dia harus menyelidiki hatinya dan pikiran mengapa dia seperti begitu. Perintah Tuhan Yesus Kristus yang harus kita perbuat adalah, “SALING MENGASIHI.”